KONSULTASI VIA WHATSAPP
Skip to main content

MENGHINDARI NYERI JUSTRU BISA MENIMBULKAN BAHAYA KECACATAN ?

Melihat judul diatas , mungkin kita jadi penasaran, apa maksudnya menghindari nyeri malah menyebabkan bahaya kecacatan ?
Begini ceritanya, sebagai contoh, sering kami temui orang yang sudah bertahun-tahun mengalami nyeri pada bahu, sehingga tidak bisa mengangkat tangan melebihi kepala. Solusi yang dilakukan biasanya, minum obat pereda nyeri, pakai obat gosok, pakai obat tempel dll, tujuannya supaya nyeri hilang. Yang terjadi adalah, seringkali nyeri hilang dan  timbul  lagi. Jika setelah beberapa lama menggunakan berbagai obat dan nyeri masih ada, maka alternatifnya adalah membatasi gerak, jadi tidak lagi mengangkat tangan melebihi kepala , dimana tujuannya supaya nyeri tidak timbul lagi. Jadi bahasa kerennya kita "Menghindari Pemicunya". Jadilah kita memilih menjadi manusia yang TIDAK NORMAL dalam hal gerak, dimana seharusnya manusia normal,  mampu untuk menggerakkan tangan sampai diatas kepala tetapi kita memilih untuk tidak bisa mengangkat tangan melebihi kepala karena menimbulkan nyeri.
Tahukah anda, inilah awal kecacatan yang akan kita derita, otot yang tidak digunakan dengan sendirinya akan mulai mengecil dan kehilangan fungsinya, dengan perlahan struktur bahu akan berubah dan makin lama gerakan kita akan makin terbatas. Setelah tangan sudah tidak mampu bergerak atau nyeri sudah tidak terkendali, maka pengobatan menjadi lebih sulit dan mahal.  Bahkan ada yang harus sampai ganti engsel bahu.

Jika demikian, bagaimana sebaiknya ?  Menurut kami, nyeri itu bukan penyakit, nyeri adalah sinyal bahwa ada masalah pada tubuh kita. Ibarat alarm kebakaran di gedung, maka jika alarm berbunyi , maka seharusnya kita mencari penyebab alarm berbunyi, dimanakah posisi kebakaran dan segera padamkankan sumber kebakaran tersebut.  Banyak obat dan terapi , hanya mematikan alarm kebakaran tersebut, tetapi tidak mampu memadamkan sumber kebakaran. Jika ini yang terjadi, kita menjadi tidak heran , banyak orang bertahun - tahun bersahabat dengan obat penahan rasa nyeri dan terapi tertentu. Mengapa? karena obat dan terapi tersebut  hanya mematikan alarm, tidak mematikan sumber kebakaran. Hal ini persis , seperti kita membatasi gerak, berarti kita menjaga agar alarm tidak berbunyi, tetapi sumber kebakarannya masih tetap ada dan makin lama bisa makin membesar.

Jadi , jika kita mengalami nyeri, langkah terbaik adalah mencari penyebabnya, bukan meredakan nyeri semata.  Kita harus menghadapi nyeri , dan mengatasi penyebabnya ,bukan justru menghindari nyeri.

Kami di Sanctuary Mind , membantu klien untuk menemukan penyebab nyeri dan memberitahukan solusinya. Tentu saja tanpa obat dan operasi.

salam,
Sanctuary Mind

"Dokter masa depan, tidak akan memberikan obat, tetapi akan mencegah penyakit  pasiennya dengan pendekatan kemanusiaan, dengan pengaturan pola makan (diet) dan pengetahuan akan pencegahan penyakit. "
(Thomas Alva Edison, 1847-1931. Penemu) 

Kapan waktu terbaik untuk terapi ke Sanctuary Mind? Klik di sini

Lihat testimoni yang lain? Klik di sini 
Info tentang biaya terapi? Klik di sini

Mau terapi , tetapi tidak bisa hadir di tempat terapi ? Tidak ada masalah, bisa ikuti Metoda Online Therapy (Terapi Jarak Jauh). Pertama dan Satu - Satunya di Indonesia. Klik Info & Biaya Terapi Jarak Jauh / Online Therapy 
DISCLAIMER
Tidak ada jaminan, bahwa efek positif dari terapi bisa langsung dirasakan pada setiap klien. Hasil terapi, bisa berbeda - beda pada setiap klien.

Comments

Popular posts from this blog

BEDA KECETIT DAN SARAF TERJEPIT

Banyak ditemui kerancuan antara istilah kecetit dan saraf terjepit. Kecetit adalah masalah nyeri, tegang otot, biasa disebut spasme otot. Kecetit, biasanya jauh lebih mudah disembuhkan.

Posisi kecetit , bisa di punggung, pinggul, bahkan di perut. Kecetit umumnya akibat  berusaha menjangkau benda dengan posisi yang tidak benar. Misal, seorang klien kecetit di perut, sehingga kalau berjalan tegak , otot perut ketarik dan nyeri. Setelah diskusi, baru kami ketahui bahwa ibu tersebut mengambil buku yang jatuh ketika beribadah, tetapi karena terhalang bangku depan maka susah dijangkau, tetapi tetap dipaksakan, akhirnya terjadilah kecetit.

Selain itu, penyebab lain adalah salah posisi duduk, tidur, mengangkat benda, bahkan leher tengeng (nyeri leher) pada beberapa kasus juga masuk kategori kecetit. 
Bagaimana dengan saraf terjepit ? Kalau saraf terjepit, ini sudah masalah struktural dan mekanikal tubuh. Terjadi di tulang belakang, paling banyak terjadi di punggung bawah (lumbar) maka sering…

KENA SARAF KEJEPIT (HNP) , NYERI SEPERTI KESETRUM DARI PUNGGUNG SAMPAI KAKI

Berikut penuturan Bp . Mulyono Hadi Purwanto, dari Surabaya.

" Awalnya saya mengalami kecelakaan lalu lintas, dimana saya naik sepeda, ditabrak sepeda motor dan saya jatuh dengan pinggul kena aspal terlebih dahulu. Tetapi kejadian itu saya anggap biasa dan saya merasa tidak ada keluhan berarti.  Beberapa hari kemudian , saat saya sedang bekerja, saya merasa sakit di punggung bawah yang menjalar sampai kaki dan segera saya pulang untuk  istirahat. Besok paginya saya tidak bisa berdiri, lutut lemas dan punggung bawah sampai punggung kaki terasa nyeri seperti kena setrum listrik.
Sebagai pertolongan pertama , saya berobat  ke tukang pijat sangkal putung, dan hari itu juga saya bisa berjalan lagi, walaupun tidak normal seperti sediakala. Setelah pijat 3 x, tukang pijat menyerah, karena dikatakan darah tidak mengalir dengan normal ke bagian kaki. 
Selanjutnya selama 4 bulan berikutnya saya ke dokter dan setiap minggu kontrol, tetapi belum ada kemajuan. Rasa nyeri seperti kesetrum da…

TERHINDAR OPERASI LUTUT

Berikut sharing dari Ibu Yoga, Surabaya. Beliau datang terapi pada Agustus 2017. Keluhan beliau adalah nyeri lutut yang menurut diagnosa dokter terjadi pengapuran atau Osteoarthritis. Berikut penuturan Ibu Yoga :
" Usia saya sekarang mendekati 66 thn. Sejak usia 53 thn, saya sudah merasakan gangguan nyeri pada lutut. Mungkin penyebabnya berat badan saya. Mulai saat itu, saya mulai konsumsi suplemen yang mengandung glukosamin dan kalau nyeri sudah tidak tertahankan, saya minum obat anti nyeri. Karena nyeri semakin membandel, segala macam jenis anti nyeri sudah di minum dan sampai suatu saat obat anti nyeri sudah tidak bisa membantu lagi.
Saat menginjak usia 62 tahun, untuk jalan saya sudah harus memakai tongkat. Selanjutnya , berkunjung ke dokter Orthopedi sudah menjadi langganan dan sampai berganti beberapa dokter. Berbagai macam obat sudah di minum, tetapi nyeri tetap tidak hilang. Terutama lutut kanan lebih parah daripada lutut kiri dan sudah bengkok.
Kemudian ada teman yang m…